A.
Sosialisasi
1. Pengertian Sosialisasi
Setiap orang memperoleh semua itu melalui suatu
proses belajar yang kita sebut dengan sosialisasi, yakni peruses belajar yang
mengubahnya menjadi seorang pribadi yang manusiawi. Sosialisasi ialah suatu
proses dimana seseorang menghayati (internalize) norma-norma kelompok dimana ia
hidup sehingga timbullah “diri” yang unik. Sosialisasi merupakan proses
mempelajari kebiasaan dan tata kelakuan untuk menjadi suatu bagian dari suatu
masyarakat, sebagian adalah proses mempelajari peran. Beberapa ahli sosiologi memberikan
pengertian sosialisasi sebagai berikut:
a.
Soerjono
soekanto, sosialisasi ialah proses social tempat seorang individu mendapatkan
pembentukan sikap untuk berperilaku yang sesuai dengan perilaku orang
disekitarnya.
b.
Peter L Berger, sosialisasi, ialah proses pada seorang anak yang sedang
belajar meradi anggota masyarakat
c.
Kamus Besar Bahasa Indonesia,
sosialisasi berarti Sualu proses
belajar seorang anggota masyarakat untuk mengenal dan menghayati
kebudayaan masyarakat di Iingkungannya.
d.
KoentJaraningrat,
sosialisasi adalah seluruh proses
di mana seorang individu sejak masa kanak-kanak
sampai dewasa, berkembang.
berhubungan, mengenal. dan menyesuaikan
diri dengan lndividu-individu
lain yang hidup dalam masyarakat sekitarnya.
Dari pengertian
yang dikemukakan para ahli tersebut depat disimpulkan bahwa sosialisasi merupakan suatu proses belajar seorang anggota masyarakat untuk mengenal dan
menghayati norma-norma serta nilai-nilai masyarakat tempat ia menjadi
anggota, sehingga terjadi pembentukan sikap untuk berperilaku sesuai dengan
tuntutan atau perilaku masyarakatnya. Jadi, proses sosialisasi membuat
seseorang menjadi tahu dan memahami bagaimana harus bersikap dan bertingkah laku di Iingkungan masyarakatnya. Melaui proses ini juga. seseorang akan mengetahui dan dapat menjalankan hak-hak serta kewajibannya berdasarkan peranan-peranan yang dimilikinya.
2. Tujuan Sosialisasi
e Sebagai Proses Sosial
Sosialisasi sebagai suatu proses sosial mempunyai tujuan sebagai berikut.
a.
Mewariskan nilal dan norma kepada generasi penerus,
b.
Membantu individu untuk beradaptasi dengan Ilngkungan
sekitar.
c.
Memberikan
pengetahuan yang berhubungan dengan
nilai dan norma dalam masyarakat
d.
Mencegah
terjadinya perilaku menyimpang.
e.
Tercapainya
Integrasi masyarakat.
3.
Fungsi Sosialisasi
Proses sosialisasi
di lingkungan masyarakat memiliki dua fungsi utama sebagai
berikut :
a.
Membentuk pola perilaku individu berdasarkan
kaidah nilai dan norma yang berlaku dalam masyarakat.
b.
Menjaga keteraturan dalam
masyarakat.
c.
Menjaga integrasi masyarakat
4.
Indikasi Keberhasilan Proses Sosialisasi
a.
Terintegrasi secara kuat dengan masyarakat setempat dalam setiap
aktivitas yang ditandai dengan keakraban dan persaudaraan di antara
individu tersebut dengan warga
masyarakat yang lain
b.
Memiliki banyak teman atau retail usaha yang akan mengakibatkan ketenteraman
dalam pergaulan dan keberhasilan
dalam karier dan usaha.
c.
Meningkatnya status yang sering kali diikuti dengan meningkatnya
kepercayaan dan meningkatnya peranan sosial di lingkungan sosial yang baru.
d.
Dapat menyesuaikan diri dengan Iingkungan sosial maupun Iingkungan fisiknya.
e.
Faktor.Faktor yang Mempengaruhi Proses Sosialisasi
5.
Faktor-faktor yang memengaruhi proses sosialisasi
dapat dibedakan menjadi dua. yaitu:
a.
Faktor internal, yaitu factor-faktor yang berasal
dan dalam diri seseorang. Faktor
intrinsik ini menyangkut motivasi,
minat serta kemampuan yang dimlilki seseorang dalam rangka menyesuaikan diri dengan
tata pergaulan yang ada dalam masyarakat.
b.
Faktor eksternal, faktor yang berasal dari luar Individu
yang melakukan proses
sosialisasi dalam masyarakat. Faktor
ekstrinsik dapat berupa norma, nilai,
struktur sosial, ekonomi, struktur budaya dan lain-Iain.
6. Tahapan Sosialisasi Seseorang
a.
Tahap persiapan (Prepatory stage)
Tahap pertama ini merupakan tahapan persiapan untuk pertama kali mengenai
lingkungan sosialnya, yaitu dimulai dengan orang-orang terdekat dengan dirinya
seperti ibu, ayah, dan keluarga. Misalnya bayi mengenal bahasa yang disesuaikan
dengan maknanya yang akan digunakan sesuai yang diajarkan oleh ibunya. Pada
tahap ini manusia hanya bisa belajar meniru saja.
b.
Tahap meniru (Play stage)
Tahap ini merupakan langkah kedua
dari tahap pertama yaitu pada tahap ini anak mulai dari meniru dengan lebih
baik lagi atau sempurna. Anak sudah memahami peranan dirinya serta apa yang
diharakan dari dirinya dan peranan yang dimiliki orang lain. Contohnya anak
peremuan sering meniru pola tingkah laku ibunya seperti memasak, belanja, atau
berdandan.
c.
Tahap siap bertindak (Game stage)
Pada tahap ini anak mulai memahami perannya dalam keluarga dan
masyarakat. Anak mulai menyadaari aturan yang berlaku. Contohnya seorang aak di
sekolah berusaha mentaati tata tertib di sekolah.
d.
Tahap penerimaan norma kolektif (Generalizing stage)
Pada tahap ini anak sudah mencapai proses pendewesaan dan mengetahui
dengan jelas mengenai kehidupan bermasyarakat. Anak mampu memahami peran yang seharusnya dilakukan
dalam masyarakat. Tahapan ini manusia sudah dianggap sebagai manusia dewasa
yang mantap Contohnya pada tahapan ini seseoang sadar akan hak kewajibannya
sebagai warga Negara dan bangsa Indonesia.
7.
Media Sosialisasi
Media sosialisasi dalam
pembentukan kepribadian meliputi.
a.
Media sosialisasi keluarga
Keluarga meruakan media sosialisasi yang pertama dan utama atau yang
sering dikenal dengan istilah media sosialisasi primer. Arti pentingnya
keluarga sebagai media sosialisasi primer bagi anak terletak pada pentingnya
kemampuan yang diajarkan pada tahap ini. Hubungan individu di masyarakat sangat
dipengaruhi keluarga karena alas an-alasan berikut.
1.
Keluarga
merupakan lingkungan pendidikan yang utama dan utama dibandingkan dengan
lembaga pendidikan manapun.
2.
Keluarga
merupakan kelompok pergaulan hidup manusia dengan volume terkecil dan kader
tertinggi.
3. Keluarga merupakan mata rantai untuk hubungan
jasmani dan rohani manusia yang berlawanan jenis.
4. Keluarga meurpakan mata ranti dalam regenerasi dan
pewarisan budaya.
Kebijakan orang tua yang menunjang proses sosialisasi
anak-anaknya adalah sebagai berikut.
1. Mengusakan agar anak-anaknya selalu berdekatan
dengan orang tuanya.
2. Memberikan pengawasan dan pengendalian yang wajar
sehingga jiwa anak tidak merasa tertekan.
3. Mendoroang anak agar dapat membedakan yang benar dan
yang salah, yang baik dan buruk serta pantas dan yang tidak pantas.
4. Memperlakukan anak dengan baik, untuk itu, orang tua
harus dapat berperan dengan baik.
5. Menasihati anak-anak jika melakukan kesalahan atau
kekeliruan, menunjukkan dan mengarahkannya ke jalan yang benar, serta tidak
mudah menjatuhkan hukuman kepada anak.
Dalam keluarga ada
beberapa faktor yang bersifat universal dan memengaruhi pembentukan kepribadian anak, yaitu sebagai berikut.
1.
Sifat otoriter
orang tua
Sifat otoriter yang
berlebihan dapat menimbulkan konflik dalam diri anak terutama di dalam
masyarakat modern yang makin kompleks. Dalam masyarakat tradisional sifat
otoriter orang tua lebih besar dan lebih lama, sehingga sifat tersebut menjadi
tradisi yang diwariskan. Akan tetapi pada masyarakat modern anak umumnya
mengalami emansipasi yang akan meniru kembali segala nilai yang ditanamkan
kepadanya.
2.
Larangan Incest
Incest adalah
perkawinan yang terjadi dikalangan
keluarga sendiri atau perkawinan sedarah, Larangan Incest mendorong seseorang
mencari pasangan di luar kalangan keluarga.
3.
Persaingan untuk
mendapatkan kasih saying.
Persaingan didalam
hidup keluarga menjadi pendorong bagi seseorang anak untuk mencari hubungan
social di luar kalangan keluarga. Orang tua harus mendorong perkembangan
pribadi anak, yaitu memperlakukan anak dengan penuh kasih saying.
b.
Media
Sosialisasi teman sepermainan.
Dalam kelompok
sepermainan, anak mulai mempelajari nilai-nilai keadilan.
Proses sosialisasi
dalam kelompok bermain atau teman sepermainan sebagai berikut:
1)
Dilakukan
antarteman, baik teman sebaya maupun tidak sebaya.
2)
Terjadi secara
ekualitas (hubungan sosialisasi yang sederajat)
3)
Kelompok bermain
ikut menentukan cara berperilaku anggota kelompoknya.
4)
Menjadi bagian
dari subkultural yang dapat memberikan pengaruh positif dan negative
Didalam masyarakat,
kelompok teman sebaya dapat berbentuk chums, cliques, crowds, dan kelompok
terorganisasi.
1)
Chums adalah
kelompok yang terdiri atas dua atau tiga orang sahabat karib. Pada umumnya,
anggota kelompok ini mempunyai kesamaan dalam hal jenis kelamin, bakat, minat
dan kemampuan.
2)
Cliques adalah
kelompok yang terdiri atas emapat sampai lima orang sahabat karib, dan
mempunyai kesamaan dalam hal jenis kelamin, minat, kemauan, dan kemampuan yang
sama.
3)
Crowds adalah
kelompok teman sebaya yang terdiri atas banyak remaja yang memiliki minat sama.
Karena jumlah anggotanya banyak, sering terjadi ketegangan emosional di antara
mereka.
4)
Kelompok
terorganisir adalah kelompok yang sengaja dibentuk dan direncanakan oleh orang
dewasa. Pada umumnya, kelompok pecinta alam, kelompok belajar, regu kerja,
pramuka dan lain-lain.
c.
Media
Sosialisasi Sekolah
Adapun fungsi
pendidikan sekolah sebagai salah media sosialisasi, antara lain sebagai berikut:
1)
Mengembangkan
potensi anak untuk mengenal kemampuan dan bakatnya.
2) Melestarikan
kebudayaan dengan cara mewariskannya dari satu generasi ke generasi berikutnya.
3)
Merangsangg
partisipasi demokrasi melalui pengajaran keterampilan berbicara dan
mengembangkan kemampuan berpikir secara rasional dan bebas.
4)
Memperkaya
kehidupan dengan menciptakan cakrawal intelektual dan cita rasa keindahan
kepada para siswa serta meningkatkan kemampuan menyesuaikan diri melalui
bimbingan dan penyuluhan.
5)
Meningkatkan
taraf kesehtan melalui pendidikan olahraga dan kesehatan.
6)
Menciptakan
warga Negara yang mencintai tanah air, serta menunjang integritas antarsuku dan
antar budaya.
7)
Mengadakan
hiburan umum (pertandingan olahraga atau pertunjukan kesenian)
Untuk
mencapai tujuan tersebut, sekolah memiliki dua jenis kurikulum yaitu sebagai berikut:
1.
Kurikulum Nyata
(Real Curriculum), membuat sejumlah mata pelajran yang disampaikan di sekolah.
2.
Kurikulum
tersembunyi (Hidden Curriculum), berupa aturan-aturan sopan santun, cara
berpakaian yang rapi, penghargaan terhadap waktu (kedisiplinan) dan berpikir
serta bersikap sistematis.
d.
Media
Sosialisasi Lingkungan Kerja
Dilingkungan kerja
sesorang akan berinteraksi dengan teman sekerja, dengan pimpinan, dan dengan
relasi bisnis. Proses sosialisasi yang terjadi di lingan kerja sebagai berikut.
1)
Diutamakan untuk
mencapai kesuksesan dan keunggulan hasil kerja.
2)
Sosialisasi
tahap lanjut setelah memasuki masa dewasa.
3)
Adaptasi dalam
proses sosialisasi lingkungan kerja dilakukan berdasarkan tuntutan sistem.
4)
Intensitas
sosialisasi tertinggi dilakukan antarkolega.
e.
Media Massa
sebagai media sosialisasi
Media massa merupakan
salah satu unsur teknologi yang memiliki
peranan sebagai media sosialisasi. Alat komunikasi ini memiliki fungsi untuk
menyampaikan pesan tanpa terikat oleh nilai dan norma yang ada di masyarakat.
Identifikasi proses sosialisasi media massa sebagai berikut.
1)
Dilakukan untuk
menghadapi masyarakat luas.
2)
Pesan
sosialisasi lebih bersifat umum
3)
Diperlakukan
peran serta masyarakat untuk bersikap selektif terhadap informasi yang akan
diserap oleh anak.
4)
Sosialisasi
selalu meliputi segala untuk perkembangan dan perubahan social yang bersifat
universal.
5)
Berperan penting
untuk menyampaikan nilai dan norma untuk menghadapi masyarakat yang heterogen.
8. Jenis atau Bentuk Sosialisasi, ada 8 yaitu,
a.
Sosialisasi Primer : Tahapan sosialisasi pertama yang diterima oleh individu
dalam lingkungan keluarga.
b.
Sosialisasi Sekunder : Proses sosialisasi lanjutan setelah sosialisasi primer
yang memperkenalkan individu ke dalam kelompok tertentu dalam masyarakat.
c.
Sosialisasi Represif : Sosialisasi yang lebih menekankan penggunaan hukuman,
terutama hukuman fisik teradap kesalahan yang dilakukan anak.
d.
Sosialisasi Partisipasif : Sosialisasi yang memberikan apa yang diminta anak
apabila berperilaku baik.
e.
Sosialisasi seara Formal : Sosialisasi yang dilakukan melalui lembaga-lembaga
formal.
f.
Sosialisasi secara nonformal : Sosialisasi yangmellaui lembaga nonformal
seperti masyarakat.
g.
Sosialisasi Langsung : Tahap sosialisasi yang dilakukan secara face to face tanpa perantara komunikasi.
h.
Sosialisasi tidak langsung : Sosialisasi yang menggunakan perantara/media
komunikasi.
9.
Cara-Cara Sosialisasi :
Proses
sosialisasi individu di masyarakat dapat ditempuh dengan berbagai cara, yaitu :
a. Pelaziman (Conditioning)
Anak mempertahankan suatu perilaku apabila dengan
perilaku itu anak mendapatkan imbalan. Sebaliknya perilaku anak akan berhenti
apabila perilaku itu mendapat hukuman.
b. Imitasi
Terjadi proses imitasi ini terjadi proses yang agak
majemuk, anak akan melihat model yang akan ditiru perbuatannya.
c. Identifikasi
Dalam perkembangan proses diri, identifikasi
memegang peranan penting sebab melakukan identifikasi seseorang
“mengkategorikan” dirinya dalam kategori tertentu.
d. Internalisasi
Anak mengikuti aturan karena mereka merasa pasti
bahwa norma itu telah menadi bagian dari dirinya. Ia menyadari bahwa perilaku
tersebut diharapkan oleh masyarakat.
B. Peranan Nilai
dan Norma Sosial dalam Proses Sosialisasi
Pengetahuan tentang nilai dan norma
sosial sangat penting dalam proses sosialisasi agar manusia mampu melakukan
penyesuaian terhadap nilai dan norma sosial yang sudah ada di dalam masyarakat.
1. Nilai
Nilai merupakan suatu gambaran mengenai apa yang
diinginkan, pantas, dan berharga yang mempengaruhi perilaku sosial dari orang
yang memiliki nilai tersebut. Nilai sosial pada tiap kelompok masyarakat dapat
saja berebda. Namun yang jelas, nilai sosial menadi salah satu tolok ukur
kepribadian seseorang di masyarakat.
2. Norma
Norma adalah aturan-aturan tingkah laku yang
disetujui oleh masyarakat untuk menentukan batas-batas tingkah laku yang dapat
diterima oleh masyarakat itu. Norma memiliki peranan yang sangat penting dalam
mengatur kehidupan bermasyarakat. Jika norma ditegakkan, maka ketertiban dan keselarasan
dalam hubungan bermasyarakat akan terjalin. Sebagai contohnya yakni tata tertib
yang berlaku di sekolah. Berdasarkan kekuatannya, norma dibedakan menjadi empat
macam, yaitu norma cara (usage), kebiasaan
(folksway),tata kelakuan (mores),dan adat istiadat (custom).
1. Definisi Kepribadian
Kepibadian mencakup kebiasaan, sikap, dan sifat yang
dimiliki seseorang apabila berhubungan dengan orang lain.
Beberapa definisi kepribadian menurut para ahli,
yaitu :
a.
M.A.W. Brower :
Kepribadian adalah corak tingkah laku sosial yang meliputi corak kekuatan,
dorongan, keinginan, opini, dan sikap-sikap seseorang.
b.
Theodore R.
Newcombe
Kepribadian adalah
organisasi sikap-sikap (predisposition)
yang dimiliki seseorang sebagai latar belakang
c.
Yinger
Kepribadian adalah
keseluruhan perilaku dari seorang individu dengan system kecenderungan tertentu
yang berinteraksi dengan serangkaian situasi.
d.
Koentjaraningrat
Kepribadian adalah
suatu susunan dari unsur-unsur akal dan jiwa yang menentukan tingkah laku atau
tindakan seseorang.
e.
Roucek dan
Warren
Kepribadian adalah
organisasi factor-faktor biologis, psikologis, dan sosiologis yang mendasari
perilaku seseorang.
Dari pengertian yang diungkapkan oleh para ahli di
atas, dapat disimpulkan secara sederhana bahwa yang dimaksud kepribadian (personality) merupakan ciri-ciri dan
sifat-sifat khas yang mewakili sikap atau taiat seseorang, mencakup pola-pola
pemikiran dan perasaan, konsep diri, perangai, dan mentalitas yang umumnya
sejalan dengan kebiasaan umum.
2. Unsur-Unsur dalam Kepribadian
Kepribadian seseorang bersifat unik dan tidak ada
duanya. Unsur-unsur yang memengaruhi kepribadian seseorang adalah sebagai
berikut :
Ø Pengetahuan
Pengetauan individu
terisi dengan fantasi, pemahaman, dan konsep yang lahir dari pengamatan dan
pengalaman mengenai bermacam-macam hal yang berbeda dalam lingkungan individu
tersebut. Semua itu direkam dalam otak dan sedikit demi sedikit diungapkan oleh
individu tersebut dalam bentuk perilaku.
Ø Perasaan
Perasaan adalah suatu
keadaan dalam kesadaran manusia yang mnghasilkan penilaian positif atau negtif
terhadap sesuatu. Bentuk penilaian tersebut dipengaruhi oleh pengetahuannya.
Ø Dorongan Naluri
Dorongan naluri adalah
kemauan yang sudah merupakan naluri pada setiap manusia.
3. Faktor-Faktor Pembentukan Kepribadian
Beberapa factor pembentuk kepribadian sebagai
berikut :
a.
Factor biologis
(diperoleh dari gen keturunan orang tua)
b.
Factor kelompok
(terbentuk dari pengaruh kelompok dan lingkungan spesi)
c.
Factor prenatal
(berkaitan dengan pemberian rangsangan atau stimulus ketika anak maish dalam
kandungan)
d.
Factor geografis
(dipengaruhi oleh lingkungan alam)
e.
Factor
kebudayaan (dipengaruhi oleh lingkungan budaya)
f.
Faktor
pengalaman (berhubungan dengan pengalaman hidup)
a) Teori Tabula Rasa
Teori ini mengandaikan
bahwa semua individu pada waktu lahir mempunyai potensi kepribadian yang sama.
Setelah itu, kepribadiannya merupakan hasil pengalaman-pengalaman setelah
lahir. Perbedaan pengalaman yang dialami itulah yang membedakan kepribadian
antara individu yang satu dengan lainnya.
b) Teori Cermin Diri
Teori Cermin Diri (The
Looking Glass Self) ini dikemukakan oleh Charles H. Cooley. Teori ini
menggambarkan bahwa seseorang hanya bisa berkembang dengan bantuan orang lain.
Setiap orang menggambarkan diri mereka sendiri dengan cara bagaimana orang lain
memandang mereka. Teori ini didasarkan pada analogi dengan cara bercermin dan
mengumpamakan gambar yang tampak pada cermin tersebut sebagai gambaran diri
kita yang terlihat orang lain.
Ada tiga langkah dalam
proses pembentukan cermin diri.
1)
Imajinasi
tentang pandangan orang lain terhadap diri seseorang, seperti bagaimana pakaian
atau tingkah lakunya di mata orang lain.
2)
Imajinasi
terhadap penilaian orang lain tentang apa yang terdapat pada diri masing-masing
orang. Misalnya, pakaian yang dipakai.
3)
Perasaan
seseorang tentang penilaian itu seperti bangga, kecewa, gembira, atau rendah
diri.
c)
Teori Diri Antisosial
Teori ini dikemukakan
oleh Sigmund Freud. Gagasan pokoknya adalah bahwa masyarakat atau lingkungan
sosial selamanya akan mengalami konflik dan selamanya menghalangi seseorang
untuk mencapai kesenangannya. Masyarakat selalu menghambat pengungkapan agresi,
nafsu seksual, dan dorongan-dorongan lainnya atau dengan kata ain, id selalu
berperang dengan superego. Id biasanya ditekan tetapi sewaktu-waktu ia akan
lepas menantang superego, sehingga menyebabkan beban rasa bersalah yang sulit
dipikul oleh diri. Kecemasan yang mencekam diri seseorang itu dapat diukur
dengan bertitik tolak pada jauhnya superego berkuasa terhadap id dan ego.
Dengan cara demikian, Freud menekankan aspek-aspek tekanan jiwa dan frustasi
sebagai akibat hidup berkelompok.
d)
Teori Ralph dan
Conton
Teori
ini mengatakan bahwa setiap kebudayaan menekankan serangkaian pengaruh umum
terhadap individu yang tumbuh di bawah kebudayaan itu. Pengaruh-pengaruh ini
berbeda antara kebudayaan yang satu dengan kebudayaan yang lain, tetapi
semuanya merupakan bagian dari pengalaman bagi setiap orang yang termasuk dalam
masyarakat tertentu. Setiap masyarakat akan memberikan pengalaman tertentu
d)
Teori Ralph dan
Conton
Teori ini mengatakan bahwa setiap kebudayaan
menekankan serangkaian pengaruh umum terhadap individu yang tumbuh di bawah
kebudayaan itu. Pengaruh-pengaruh ini berbeda antara kebudayaan yang satu
dengan kebudayaan yang lain, tetapi semuanya merupakan bagian dari pengalaman
bagi setiap orang yang termasuk dalam masyarakat tertentu. Setiap masyarakat
akan memberikan pengalaman tertentu yang tidak diberikan oleh masyarakat lain
kepada anggotanya. Dari pengalaman social itu timbul pembentukan kepribadian
yang khas dari masyarakat tersebut. Selanjutnya dari pembentukan kepribadian
yang khas ini kita mengenal ciri umum masyarakat tertentu sebagai wujud
kepribadian masyarakat tersebut.
e) Teori Subkultural Soerjono Soekanto
Teori ini mencoba melihat kaitan antara kebudayaan
dan kepribadian dalam ruang lingkup yang lebih sempit, yaitu kebudayaan khusus
(subkultual). Dia menyebutkan ada beberapa tipe kebudayaan khusus yang
memengaruhi kepribadian, yaitu sebagai berikut.
1.
Kebudayaan
khusus atas dasar factor kedaerahan
Di sini dijumpai
kepribadian yang berbeda dari individu-individu yang merupakan anggota suatu masyarakat
tertentu. Oleh karena masing-masing tinggal di daerah-daerah yang berlainan
dengan kebudayaan khusus yang berbeda pula.
2.
Cara hidup di
kota dan di desa yang berbeda
Ciri khas yang dapat
dilihat pada anggota masyarakat yang hidup di kota besar adalah sikap
individualistik. Sedangkan orang desa lebih menampakkan diri sebagai masyarakat
yang mempunyai sikap gotong royong yang sangat tinggi.
3.
Kebudayaan
khusus kelas social
Dalam kenyataan di
masyarakat, setiap kelas social mengembangkan kebudayaan yang salng berbeda.
Pada akhirnya menghasilkan kepribadian yang berbeda pula pada masing-masing
anggotanya. Misalnya kebiasaan orang-orang yang berasal dari kelas atas dalam
mengisi waktu liburannya ke luar negeri. Kebiasaan tersebut akan menghasilkan
kepribadian yang berbeda dengan kelas social lainnya di masyarakat.
4.
Kebudayaan
khusus atas dasar agama
Agama juga mempunyai
pengaruh yang besar untuk membentuk kepribadian individu. Adanya mazhab-mazhab
tertentu dalam suatu agama dapat melahirkan kepribadian yang berbeda-beda
dikalangan anggota-anggota mazhab yang berlainan itu.
5.
Kebudayaan
khusus atas dasar pekerjaan atau keahlian
Pekerjaan atau keahlian
yang dimiliki seseorang juga mempunyai pengaruh terhadap kepribadiannya.
Contohnya kepribadian seorang guru pasti berbeda dengan militer.
Profesi-profesi tersebut pasti mempunyai cara yang berbeda dalam mendidik anak
dan cara bergaul.
5. Tahap-Tahap Perkembangan Kepribadian
A. Fase Pertama
Fase ini terjadi dalam
lingkungan keluarga yaitu ketika seorang anak mulai dapat berinteraksi dengan
orang-orang yang ada di dekatnya, terutama adalah ayah, ibu, dan kakak. Menurut
Charles H. Cooley (1864-1928),
kepribadian terbentuk melalui tiga fase penting. Bahwa proses perkembangan
seseorang dimulai kurang lebih usia 1-2 tahun yang ditandai dengan saat-saat
seorang anak mengenal dirinya sendiri. Dalam proses kesadaran tentang diri
sendiri ini, anak kecil dibantu oleh orang-orang dewasa di lingkungan
keluarganya yang mengjarkan kepadanya bahwa ia mempunyai suatu nama tersendiri
dan ia adalah putra bapak dan ibu. Kepribadian seorang anak terdiri dari 2
bagian penting yaitu bagian dasar yang cenderung tetap yang merupakan
perwujudan dari nilai sentral yang dimilki seorang anak individu. Di samping
itu, terdapat bagian lain yang cenderung berubah-ubah tergantung dari situasi
dan kondisi yang dihadapinya. Kedua bagian ini merupakan keseluruhan dari
kepribadian seorang anak.
Adapun masingmasing
bagian tersebut adalah sebagai berikut.
1)
Bagian yang
pertama yang berisi unsur-unsur dasar atas berbagai sikap yang disebut
attitudes yang kurang lebih bersifat permanen dan tidak mudah berubah
dikemudian hari.
2)
Bagian yang
kedua adalah unsur-unsur yang terdiri atas keyakinan-keyakinan atau
anggapan-anggapan yang lebih fleksibel yang sifatnya mudah berubah atau dapat
ditinjau kembalu di kemudian hari. Anggapan-anggapan ini diperoleh berdasarkan
pengalaman melalui pergaulan dengan orang lain.
Unsur yang pertama juga
disebut struktur dasar kepribadian (basic
personality structure), sedangkan unsur yang kedua disebut capital personality.
B.
Fase Kedua
Fase ini diawali dari
usia 2-3 tahun. Fase ini merupakan fase perkembangan di mana rasa yang telah
dimiliki seorang anak mulai berkembang karakternya sesuai dengan tipe pergaulan
yang ada di lingkungannya, termasuk struktur tata nilai maupun struktur
budayanya. Fase ini berlangsung relatif panjang hinga anak menjelang masa
kedewasaannya sampai kepribadian tersebut mulai tampak dengan tipe-tipe
perilaku yang khas yang tampak dalam hal-hal berikut ini.
1)
Dorongan-dorongan
(Drives)
Unsur ini merupakan
pusar dari kehendak manusia untuk suatu aktivitas yang selanjutnya akan
membentuk motif-motif tertentu untuk mewujudkan suatu keinginan. Drives ini dibedakan atas kehendak dan nafsu-nafsu.
Kehendak merupakan dorongan-dorongan yang bersifat kultural, artinya sesuai
dengan tingkat perdaban dan tingkat perekonomian seseorang. Sedangkan
nafsu-nafsu merupakan kehendak yang terdorong oleh kebutuhan biologis, misalnya
nafsu makan, amarah, dan lainnya.
2)
Naluri (Instinct)
Naluri merupakan suatu
dorongan bersifat kodrati yang melekat dengan hakikat makhluk hidup. Misalnya
seorang ibu mempunyai naluir yang kuat untuk mempunyai anak, mengasuh, dan
membesarkan hingga dewasa. Naluri ini dapat dilakuka pada setiap makhluk hidup
tanpa harus belajar lebih dahulu seolah-olah telah menyatu dengan hakikat
makhluk hidup.
3)
Getaran Hati
(Emosi)
Emosi atau getaran hati
merupakan sesuatu yang abstrak dan menjadi sumber perasaan manusia. Emosi dapat
menjadi pengukur segala sesuatu yang ada pada jiwa manusia, seperti senang,
sedih, indah, serasi , dan lainnya.
4)
Perangai
Perangai merupakan
perwujudan dari perpaduan antara hati dan pikiran manusia yang tampak dari raut
muka maupun gerak-gerik seseorang. Perangai ini merupakan salah satu unsur dari
kepribadian yang mulai riil, dapat dilihat, dan diidentifikasi oleh orang lain.
5)
Inteligensi (Inteligence Quetient-IQ)
Inteligensi adalah
tingkat kemampuan berpikir yang dimiliki seseorang. Sesuatu yang terasuk dalam
intelegensi adalah IQ, memori-memori pengetahuan, serta pengalaman-pengalaman
yang telah diperoleh seseorang selama melakukan sosialisasi.
6)
Bakat (Talent)
Bakat pada hakikatnya
merupakan sesuatu yang abstrak yang diperoleh seseorang karena warisan biologis
yang diturunkan oleh leluhurnya, seperti bakat seni, olahraga, berdagang,
berpolitik, dan lainnya. Bakat merupakan sesuatu yang sangat mendasar dalam
mengembangkan keterampilan-keterampilan yang ada pada seseorang. Setiap orang
memilki bakat yang berbeda-beda, walaupun berasal dari ayah dan ibu yang sama.
c. Fase Ketiga
Fase ketiga akan dialami oleh individu
pada akhir kedewasaan, yaitu antara umur 25 sampai 28 tahun. Suatu kepribadian
akan cenderung tetap dengan perilaku – perilaku yang khas yang menjadi anda
kepribadian seseorang.
Misalnya ramah, bijaksana, teliti,
sabar, riang, penuh tanggung jawab dan seterusnya. Pada proses perkembangan,
kepribadian fase ketiga merupakan fase akhir yang ditandai dengan makin
stabilnya perilaku – perilakuyang khas atau sifat – sifat khas dari seorang
individu. Pada tingkat perkembangan ini, seseorang pada akhirnya mengalami
suatu perkembangan yang relative tetap, yaitu dengan terbentuknya perilaku –
perilaku yang khas sebagai perwujudan kepribadian yang bersifat abstrak. Pada
dasarnya kepribadian terdiri dari 2 bagian. Bagian pertama ( basic
personality structure ) cenderung tetap, sedangkan bagian yang kedua ( capital personality ) dapat mengalami perubahan atau penyesuaian.
Setelah kerpribadian terbentuk secara permanen maka
dapat diklasifikasiakn tiga tipe kepribadian sebagai berikut
1)
Kepribadian otoriter ( otoriter man )
Kepribadian ini terjadi apabila lingkungan
sosialindovidu ketika maih kecil hingga ewasa menempatkan irinya pada
psisiatas, yaitu posisi yang selalu memimpin orang lain yang ada disekitarnya.
Kepribadian otoriter dapat terbentuk dari suasana keluarga yang sangat
mendukung, misalnya bagi anak tunggal, anak sulung atau anak laki – laki
sendiri.
Kondisi serupa bisa terbentuk di lingkungan
permainan dimana seorang individu merupakan peserta yang terbesar dan mempunyai
dominasi yang kuat terhadap kelompoknya. Salah satu cirri dari kepribadian
otoriter adalah menonjolnya kehendak pribadi, kurang menampung banyak aspirasi
dan seringkali memandang rendah keberadaan orang lain.
2)
Kepribadian normative( Normatif Man )
Kepribadian ini terbentuk apabila seorang anak sejak
kecil telah memperoleh pendidikan agama dan budi pekerti yang sangat kuat,
sehingga kepribadian ini sangat berpedoman pada norma – norma. Sangat sensitive bila di lingkungan sosialnya
terjadi penyimpangan perilaku. Kepribadian normative adalah kepribadian yang
ideal dimana seseorang mempunyai prinsip – prinsip yang kuat untuk menerapkan
nilai nilai sentral yang ada dalam dirinyayang merupakan hasil proses
sosialisasi pada masa sebelumnya. Ditandai dengan kemampuan menyesuaikan diri
yang sangat tinggai dan dapat menampung banyak aspirasi dari orang lain.
3)
Kepribadian perbatasan ( Marginal Man )
Kerpribadian tipe ini seolah – olah tidak mempunyai
bentuk yang pasti. Hal ini terjadi karena proses pembentukan seorang individu
sering kali mengalami perpindahan tempat tinggal karena alasan tertentu
sehingga nilai nilai yang terbentuk mengalami perubahan – perubahan akibat
menyesuaikan dengan perubahan tempat tinggal yang berpindah serta mempunyai
struktur budaya yang berlainan. Seseorang dikatakan memiliki kepribadian
perbatasan apabila orang ini memiliki dualisme budaya karena proses perkawinan
atau karena situasi tertentu hingga mereka harus mengabdi pada 2 struktur
budaya masyarakat yang saling tidak sama.
D. Pengaruh Sosialisasi Nilai (
Budaya ) terhadap Pembentukan Kepribadian
Sosialisasi berperan dalam proses pembentukan
kepribadian. Jika proses sosialisasi berlangsung dengan baik maka akan baik
pula kepribadian seseorang. Begitu pula sebaliknya. Jika sosialisasi
berlangsung kurang baik maka kurang baik pula kepribadian seseorang.
Kepribadian seseorang dipengaruhi pula oleh kebudayaan yang berlaku
dilingkungan sekitar. Kebudayaan merupakan pola – pola yang sering diulang –
ulang yang akhirnya menjadi sebuah kebiasaan.
Kebiasaan – kebiasaan ini dugunakan untuk memberikan
arah kepada individu ataupun keompok, bagaimana seharusnya ia berhubungan atau
berinteraksi dengan orang lain, bahkan telah menjadi tuntutan masyarakat dimana
pun dan dalam kurun waktu kapan pun. Danproses panjang inilah, kepribadian terbentuk
seiring dan sesuai dengan kebudayaan setempat. Oleh karena itu, kebudayaan
antar satu daerah dengan daerah lain berbeda, sehingga dapat dipastikan
kepribadian dari dua kebudayaan tersebut berbeda pula.
Cr By : Annisa Mauliana Akbar, Besse Pangka, and Indah Pratiwi
Tidak ada komentar:
Posting Komentar