Kamis, 02 Juni 2016

PENGENDALIAN SOSIAL



      A.    Definisi Pengendalian Sosial
Pengendalian sosial (sosial control) adalah pengawasan dari suatu kelompok terhadap kelompok lain untuk mengarahkan peran-peran individu atau kelompok sebagai bagian dari masyarakat agar tercipta situasi kemasyarakatan sesuai dengan yang diharapkan. Berikut beberapa definisi pengendalian sosial menurut para ahli.
1.      Peter L. Berger, mengemukakan bahwa pengendalian sosial adalah berbagai cara yang digunakan masyarakat untuk menertibkan anggota yang membangkang.
2.      Roucek , mengemukakan bahwa pengendalian sosial adalah suatu istilah kolektif yang mengacu pada proses dimana individu dianjurkan ,dibujuk, atau dipaksa untuk menyesuaikan diri pada kebiasaan dan nilai hidup suatu kelompok. Prosesnya dapat berlangsung dengan terencana maupun tidak.
3.      Soerjono Soekanto, pengendalian sosial adalah suatu proses baik yang direncanakan atau tidak, yang bertujuan untuk mengajak, membimbing bahkan memaksa warga masyarakat agar mematuhi nilai-nilai dan kaidah yang berlaku.
Berdasarkan pengertian tersebut dapat disimpulkan bahwa pengendalian sosial meliputi sistem dan proses yang mendidik, mengajak, dan memaksa.
1.      Mendidik, dimaksudkan agar diri seseorang terdapat perubahan sikap dan tingkah laku untuk bertindak sesuai dengan norma. Didapat melalui pendidikan formal maupun informal.
2.      Mengajak, bertujuan mengarahkan agar perbuatan seseorang didasarkan pada norma-norma yang berlaku, dan tidak menuruti kemauannya sendiri-sendiri.
3.      Memaksa, bertujuan untuk memengaruhi secara tegas agar seseorang bertindak sesuai dengan norma-norma yang berlaku, apabila tidak dikenakan sanksi.
Pentingnya penerapan pengendalaian sosial, menurut Koentjaraningrat, disebabkan oleh adanya ketegangan dalam proses sosial yang memerlukan pengendalian sosial. Ketegangan itu antara lain,
1.      Ketegangan sosial yang terjadi karena perbedaan antara ketentuan dalaam istiadat dan kepentingan individu.
2.      Ketegangan sosial yang terjadi karena keperluan yang bersifat umum bertemu dengan kepentingan golongan yang ada dalam masyarakat.
3.      Ketegangan sosial yang terjadi karena golongan yang menyimpan sengaja menentang tata kelakuan yang berlaku.

      B.     Ciri-Ciri Dan Tujuan Pengendaian Sosial
Adapun ciri-ciri pengendalian sosial adalah :
1.suatu cara, metode, atau teknik tertentu terhadap masyarakat
2. bertujuan mencapai keserasian antara stabilitas dengan perubahan yang terus terjadi di dalam suatu masyarakat.
3. dapat dilakukan oleh suatu kelompok terhadap kelompok lainnya atau oleh suatu kelompok terhadap individu
Tujuan pengendalian sosial dalam masyarakat sebagai berikut:
1. mewujudkan ketentraman dan keserasian dalam masyarakat.
2. pelaku penyimpangan dapat kembali mematuhi norma-norma yang berlaku
3. masyarakat dapat mematuhi nilai dan norma sosial, dengan kesadaran sendiri maupun dengan paksaan.
4. pelaku menyadari kesalahannya dan memperbaiki tingkah lakunya
5. mengurangi tindak penyimpangan sosial.


     C.    Sifat-Sifat Pengendalina Sosial
     1.      Berdasarkan waktu pelaksanaanya
Dibedakan menjadi 3, yaitu
a.  Tindakan preventif, yaitu tindakan yang dilakukan oleh pihak yang berwajib penyimpangan sosial terjadi agar suatu tindak pelanggaran dapat dijega. Umumnya dilakukan dengan cara melalui bimbingan, pengarahan dan ajakan. Contohnya kegiatan penyuluhan.
b.      Tindakan represif, yaitu suatu tindakan aktif yang dilakukan pihak berwajib pada saat penyimpangan sosial terjadi agar penyimpangan yang sedang terjadi dapat dihentikan. Contohnya guru memberikan hukuman kepada siswa yang terlambat agar tindakan penyimpangan siswa tidak berulang lagi.
c.       Tindakan kuratif, tindakan ini diambil setelah terjadinya tindak penyimpangan sosial tindakn ini ditujukan untuk memberikan penyadaran kepada para-para pelaku penyimpangan agar dapat menyadari kesalahannya dan mau serta mampu memperbaiki kehidupannya.

2.      Berdasarkan sifatnya
Dibedakan menjadi 2, yaitu
a.       Pengendalian internal, dilakukan oleh penguasa atau pemerintah sebagai pemegang kekuasaan untuk menjalankan roda peerintahannya melalui strategi politik yang berupa aturan perundang-undangan atau program sosial lainnya.
b.      Pengendalian ekternal, dilakukan oleh rakyat kepada para penguasa. Hal ini dilakukan karena dirasa adanya penyimpangan tertentu yang dilakukan oleh kalangan penguasa. Dapat dilakukan melalu aksi demonstrasi, pengawasan LSM, atau melalui wakil-wakil rakyat di DPRD.

    D.    Tahapan Pengendalin Sosial
1.      Tahapan pengenalan
Pada tahapan masyarakat dikenalkan pada bentuk-bentuk penyimpangan beserta sanksi-sanksinya.
2.      Tahapan penekanan sosial
Dilakukan  untuk mendukung terciptanya kondisi sosial yang stabil. Pada tahap ini telah disertai dengan pelaksanaan sanksi kepada para pelaku tidakan penyimpangan.
3.      Tahapan pendekatan kekuasaan
Dilakukan jika tahap-tahap yang lain tidak mampu mengarahkan tingakah laku manusia sesuai dengan norma atau nilai yang berlaku. Bardasarkan pelakunya, tahap ini dapat dibedakan menjadi berikut ini.
a.       Pengendalian kelompok terhadap kelompok
b.      Pengendalian kelompok terhadap anggotanya
c.       Pengendalian pribadi terhadap pribadi.

    E.     Jenis-Jenis Pengendalian Sosial
Jenis pengendalian sosial antara lain berikut ini.
1.      Gosip atau desas-desus
Gosip adalah membicarakan seseorang tanpa sepengetahuan orang tersebut. Pada dasarnya, gosip merupakan upaya orang lain memerhatikan perilaku kita, apakah sesuai dengan harapan masyarakat atau belum. Tidak semua gosip merupakan pengendalian sosial, hanya gosip yang membicarakan penyimpangan  saja yang berfungsi sebagai pengendalian sosial. Gosip yang positif  menciptakan kondisi masyarakat yang tertib. Akan tetapi, apabila gosip justru memecah belah keutuhan masyarakat, gosip justru merugikan. Reaksi orang terhadap gosip berbeda-beda.

2.      Teguran
Teguran adalah kritik yang diberikan seseorang kepada orang lain sehubungan dengan perilakunya. Kritik tersebut bersifat membangun karena bertujuan memperbaiki perilaku pelanggaran-pelanggaran ringan. Teguran disampaikan secara langsung. Teguran akan diperhatikan bila disampaikan oleh orang yang memiliki legitimasi lebih tinggi di mata orang yang ditegur.

3.      Pendidikan
Pendidikan dapat membina dan mengarahkan warga masyarakat kepada pembentukan sikap dan tindakan yang bertanggung jawab terhadap diri sendiri, masyarakat, bangsa, dan negaranya. Berpendidikan artinya individu mempunyai, mengalami, dan mengikuti pendidikan yang sempurna dalam kehidupannya sehingga ia dapat membedakan mana yang benar dan mana yang salah, mana yang baik dan buruk, atau mana yang boleh dan tidak boleh. Individu yang tidak berpendidikan cenderung susah melakukan penyesuaian  dalam interaksi sosial di masyarakat. Sehingga pendidikan berfungsi untuk mengendalikan sosial.

4.      Agama
Agama pada dasarnya berisikan perintah, larangan, dan anjuran kepada pemeluk agama dalam menjalani hidup sebagai makhluk pribadi, makhluk Tuhan, dan sekaligus sebagai makhluk sosial. Norma-norma agama berfungsi untuk membimbing dan mengarahkan para pemeluk agama dalam bersikap dan bertindak di masyarakat. Individu yang melanggar norma agama akan dikecam perasaan bersalah atau bedosa terhadap Tuhan Yang Maha Esa.

5.      Hukuman
Dalam masyarakat, terdapat pula individu yang tebal muka, hilang rasa malunya. Mereka tentu tidak jera sekalipun digosipkan, ditegur, atau diberi pendidikan. Maka diperlukan adanya hukuman fisik. Dengan adanya sanksi hukuman yang keras tersebut, diharapkan bisa membuat jera bagi pari pelanggar. Tidak hanya si pelaku, tetapi juga warga masyarkat lainnya.

    F.     Cara-Cara Pengedalian Sosial
Secara umum, pengendalian sosial dapat dilakukan melalui tiga cara, yaitu:
1.    Melalui proses sosialisasi. Sosialisasi merupakan proses mempelajari peran dan kedudukan dalam masyarakat. Melalui sosialisasi masyarakat menerima nilai dan norma yang berlaku tanpa paksaan. Usaha ini dapat dilakukan melalui lembaga formal maupun nonformal kepada anggota masyarakat secara kontinuitas.
2.    Tekanan sosial masyarakat menimbulkan keseganan melalui penekanan kelompok terhadap orang-perorangan sehinggah tergugah untuk menyesuaikan diri dengan aturan kelompok atau memberi sanksi terhadap orang yang melanggar aturan kelompok.
3.    Pengendalian sosial melalui kekuatan dan kekuasaan. Ini digunakan jika bentuk pengendalian sosial lainnya gagal untuk mengarahkan tingkah laku orang per orang dalam menyesuaikan diri dengan nilai dan norma sosial. Karena manusia cenderung lebih menaruh pandang terhadap orang orang yang memiliki kekuatan dan kekuasaan.
Menurut Koentjaraningrat, pengendalian sosial dapat dilakukan melalui empat cara, yaitu:
1.    Mempertebal keyakinan masyarakat terhadap norma sosial.
2.    Memberikan imbalan kepada warga yang menaati norma.
3.    Mengembangkan rasa malu dalam jiwa warga masyarakat yang menyeleweng dari aturan atau nilai yang berlaku.
4.    Mengembangkan rasa takut dalam jiwa warga yang hendak melanggar dengan ancaman dan kekuasaan.

    G.    Proses Pengendalian Sosial
1.    Cara Persuasif
Cara persuasif dalam pengendalian sosial dilakukan dengan menekankan pada usaha mengajak dan membimbing anggota masyarakat agar bertindak sesuai dengan cara persuasif. Cara ini diterapkan pada masyarakat yang relatif tentram, norma dan nilai sosial sudah melembaga atau menyatu dalam jiwa para anggota masyarakatnya. Selai itu cara persuasif juga menekankan pada segi nilai pengetahuan dan nilai sikap.

2.    Cara Koersif
Cara koersif dalam pengendalian sosial dilakukan dengan kekerasan atau paksaan. Biasanya dilakukan dengan menggunakan kekuatan fisik. Cara koersif dilakukan sebagai upaya terakhir apabila cara pengendalian persuasif tidak berhasil. Cara koersif bisa menimbulkan dampak negatif secara langsung maupun tidak langsung, karena menyelesaikan masalah dengan kekerasan akan menimbulkan kekerasan pula.
Penendalian sosial dengan cara koersif dibedakan menjadi dua, yaitu:
a.       Kompulsif, yaitu kondisi yang sengaja diciptakan sehingga seorang terpaksa taat pada norma-norma. Misalnya untuk membuat para pencopet jera, apabila tertangkap basah langsung dikeroyok dan dihakimi massa.
b.      Pervasi, yaitu penanaman norma secara berulang-ulang dengan harapan bahwa norma tersebut masuk ke dalam kesadaran seseorang sehingga orang tersebut akan mengubah sikapnya sesuai yang diinginkan. Misalnya bimbingan orang tua terhadap anak-anaknya secara terus menerus.

   H.    Lembaga Pengendalian Sosial
Jenis-jenis lembaga pengendalian sosial, yaitu:
1.      Lembaga Kepolisian
Polisi adalah penegak hukum yang bertugas untuk memelihara dan meningkatkan tertib hukum guna mewujudkan ketertiban, keamanan, dan ketentraman masyarakat. Untuk menjalankan tugasnya tersebut polisi diberi kewenangan untuk melakukan penyelidikan terhadap berbagai kasus kejahatan dan menerima laporan kejahatan dari masyarakat. Selain itu polisi juga bertugas untuk membimbing masyarakat untuk meningkatkan kesadaran hukum dan partisipasi aktif untuk menjaga keamanan lingkungan masing-masing.

2.      Pengadilan
Pengadilan merupakan suatu badan yang dibentuk oleh negara untuk menangani, menyelesaikan, dan mengadili setiap perbuatan yang melanggar hukum. Dalam mengadili sekaligus memberikan sanksi sesuai ketentuan yang berlaku.

3.      Lembaga Adat
Kebiasaan-kebiasaan yang terbentuk dan berkembang dalam masyarakat, memiliki nilai dan dijunjung tinggi oleh anggotanya, serta bersifat magis religius mengenai nilai-nilai budaya, norma-norma hukum, dan aturan-aturan yang mengikat disebut adat. Adat biasanya disebut juga sebagai aturan tradisional. Pihak yang berperan menegakkan adat adalah tokoh adat. Peranan tokoh adat sangat penting untuk membina serta mengendalikan sikap dan tingkah laku warga masyarakat agar sesuai dengan ketentuan adat. Bentuk pengendalian sosial ini, antara lain bentuk penetapan sanksi berupa denda, pengucilan dari lingkungan adat, atau teguran.

4.      Tokoh Masyarakat
Tokoh masyarakat adalah seseorang yang memiliki pengaruh besar, dihormati, dan disegani dalam suatu masyarakat karena aktivitas, kecakapan, dan sifat-sifat tertentu yang dimilikinya. Seorang tokoh tidak hanya diminta nasihat dan petunjuknya tentang hubungan dalam masyarakat, tetapi dia juga mengawasi pelaksanaan tingkah laku masyarakatnya. Pada masyarakat tertentu, keberadaan tokoh ini lebih penting daripada aparat resmi pemerintahan.

5.      Tokoh Agama
Orang yang memiliki pemahaman luas tentang suatu agama dan menjalankan pengaruhnya sesuai dengan pemahaman tersebut dinamakan tokoh agama. Tokoh agama ini sangat berpengaruh di lingkungannya karena nilai-nilai dan norma-norma yang ditanamkannya berkaitan dengan perdamaian, sikap saling mengasihi, saling menghargai, saling mencintai, saling menghormati antarsesama manusia, kebaikan,  dsb.

6.      Sekolah
Sekolah sebagai lembaga pendidikan formal memiliki peranan dalam pengendalian sosial. Guru menegur dan mendidik murid muridnya agar mau menaati tata tertib yang berlaku di sekolah. Sebaliknya, apabila ada murid yang melanggar, guru memiliki kewajiban untuk memberikan sanksi kepada murid tersebut.

7.      Keluarga
Setiap orang tua pasti mengendalikan perilaku anak-anaknya agar sesuai dengan nilai dan norma yang berlaku dalam masyarakat. Caranya dengan mendidik, menasehati, dan turut menyosialisasikan nilai dan norma yang ada.

8.      Media Massa
Media massa efektif juga dalam mengendalikan kehidupan sosial masyarakat. Apalagi media massa memiliki cakupan luas, sehingga dapat mengontrol perilaku para pemimpin dan warga masyarakat. Media massa dapat pula membentuk opini publik sehingga memengaruhi sikap dan pendapat masyarakat tentang suatu hal.

9.      Mahasiswa
Mahasiswa sering disebut sebagai pelaku pengendalian sosial. Mahasiswa bersifat kritis dan tidak memihak. Demonstrasi mahasiswa untuk menuntut para pemimpin dan pejabat pemerintah yang melanggar norma-norma hukum sehingga merugikan rakyat dan negara adalah salah satu contoh pengendalian sosial.

    I.       Fungsi Pengendalian Sosial
Fungsi pengendalian sosial antara lain,
1.    Mempertebal Keyakinan Masyarakat Terhadap Norma Sosial
Penanaman keyakinan terhadap norma sosial yang baik sangat diperlukan dalam rangka keberlangsungan tatanan bermasyarakat.
Penanaman keyakinan akan norma-norma sosial yang baik ini dilakukan melalui tiga cara sebagai berikut.
a.       Melalui lembaga pendidikan sekolah dan pendidikan keluarga. Melalui lembaga-lembaga ini seorang anak diarahkan untuk meyakini norma-norma sosial yang baik.
b.      Sugesti sosial. Dilakukan dengan memengaruhi alam pikiran seseorang melalui cerita dongeng maupun kisah-kisah nyata dari tokoh terkenal. Kisah-kisah ini, khususnya menyajikan tentang ketaatan tokoh-tokoh tersebut terhadap norma-norma atau hasil karya mereka yang sangat bermanfaat dalam meningkatkan harkat dan martabat kehidupan. Jika seseorang banyak membaca dan memahami kisah-kisah dari tokoh terkenal itu, diharapkan alam pikiran mereka akan berubah sedikit demi sedikit dan selannjutnya mencontoh perilaku-perilaku baik tersebut. Di sini, peran ajaran agama sangat penting dalam mengarahkan anggota masyarakat tentang kebaikan suatu norma.

2.    Memberikan Imbalan Kepada Warga Yang Menaati Norma
Imbalan mulai berupa pujian dan penghormatan, hingga pemberian hadiah yang berupa materi. Pemberian imbalan ini bertujuan agar anggota masyarakat tetap  melakukan perbuatan yang baik dan senantiasa memberikan contoh yang baik kepada orang lain di sekitarnya.

3.    Mengembangkan Rasa Malu
Setiap anggota masyarakat memiliki “rasa malu”. Akan tetapi dengan ukuran yang berbeda-beda. Budaya malu berkenaan dengan “harga diri”. Harga diri seseorang akan turun jika orang tersebut melakukan kesalahan yang melanggar norma-norma sosial di dalam suatu masyarakat. Masyarakat akan sangat antusias mencela setiap anggotanya yang melakukan pelanggaranterhadap norma. Celaan itu dengan sendirinya akan menciptakan kesadaran untuk tidak mengulangi pelanggaran tersebut. Bila setiap perbuatan melanggar norma dicela, maka dengan sendirinya akan timbul “budaya malu” dalam diri seseorang. 

4.    Mengembangkan Rasa Takut
Perasaan takut akan mengarahkan seseorang untuk tidak melakukan perbuatan yang dinilai mengandung risiko. Dengan demikian, orang akan berperilaku baik dan taat terhadap tata kelakuan atau adat istiadat sebab sadar bahwa perbuatan yang menyimpang dari norma-norma itu akan berakibat tidak baik bagi dirinya dan orang di sekitarnya. Rasa takut juga diajarkan dalam ajaran agama. Agama mengajarkan bahwa semua perbuatan yang menyimpang akan mendapatkan ganjaran yang setimpal di akhirat nanti.

5.    Menciptakan Sistem Hukum
Sistem hukum merupakan aturan yang disusun secara resmi dan disertai dengan aturan tentang ganjaran atau sanksi tegas yang harus diterima oleh seseorang yang melakukan penyimpangan. Perwujudan pengendalian sosialnya dengan hukuman pidana, kompensasi, terapi, dan konsolidasi.
a.       Hukum pidana, diberlakukan bagi orang-orang yang melanggar peraturan-peraturan negara, seperti membunuh, mencuri, dan merampok.
b.      Kompensasi, adalah kewajiban pihak yang melakukan kesalahan untuk membayar sejumlah uang kepada pihak yang dirugikan akibat kesalahan tersebut. Misalnya, orang yang mencemarkan nama baik orang lain dapat dituntut di pengadilan dengan ganti rugi berupa sejumlah uang.
c.       Terapi, adalah inisiatif untuk memperbaiki diri sendiri dengan bantuan pihak-pihak tertentu. Misalnya pengguna narkotika yang masuk ke panti rehabilitasi ketergantungan narkoba.
Konsolidasi, adalah upaya untuk menyelesaikan dua pihak yang bersengketa, baik secara kompromi maupun dengan mengundang pihak ketiga sebagai mediator


Cr by : Besse Awaliah and Andi Suleha

SOSIALISASI SEBAGAI PROSES DALAM PEMBENTUKAN KEPRIBADIAN


A.    Sosialisasi
 
       1.  Pengertian Sosialisasi

Setiap orang memperoleh semua itu melalui suatu proses belajar yang kita sebut dengan sosialisasi, yakni peruses belajar yang mengubahnya menjadi seorang pribadi yang manusiawi. Sosialisasi ialah suatu proses dimana seseorang menghayati (internalize) norma-norma kelompok dimana ia hidup sehingga timbullah “diri” yang unik. Sosialisasi merupakan proses mempelajari kebiasaan dan tata kelakuan untuk menjadi suatu bagian dari suatu masyarakat, sebagian adalah proses mempelajari peran. Beberapa ahli sosiologi memberikan pengertian sosialisasi sebagai berikut:
a.     Soerjono soekanto, sosialisasi ialah proses social tempat seorang individu mendapatkan pembentukan sikap untuk berperilaku yang sesuai dengan perilaku orang disekitarnya.
b.     Peter L Berger, sosialisasi, ialah proses pada seorang anak yang sedang belajar meradi anggota masyarakat
c.      Kamus Besar Bahasa Indonesia, sosialisasi berarti Sualu proses belajar seorang anggota masyarakat untuk mengenal dan menghayati kebudayaan masyarakat di Iingkungannya.
d.     KoentJaraningrat, sosialisasi adalah seluruh proses di mana seorang individu sejak masa kanak-kanak sampai dewasa, berkembang. berhubungan, mengenal. dan menyesuaikan diri dengan lndividu-individu lain yang hidup dalam masyarakat sekitarnya.
Dari pengertian yang dikemukakan para ahli tersebut depat disimpulkan bahwa sosialisasi merupakan suatu proses belajar seorang anggota masyarakat untuk mengenal dan menghayati norma-norma serta nilai-nilai masyarakat tempat ia menjadi anggota, sehingga terjadi pembentukan sikap untuk berperilaku sesuai dengan tuntutan atau perilaku masyarakatnya. Jadi, proses sosialisasi membuat seseorang menjadi tahu dan memahami bagaimana harus bersikap dan bertingkah laku di Iingkungan masyarakatnya. Melaui proses ini juga. seseorang akan mengetahui dan dapat menjalankan hak-hak serta kewajibannya berdasarkan peranan-peranan yang dimilikinya.

  2. Tujuan Sosialisasi 
e   Sebagai Proses Sosial Sosialisasi sebagai suatu proses sosial mempunyai tujuan sebagai berikut. 

a.     Mewariskan nilal dan norma kepada generasi penerus,
b.     Membantu individu untuk beradaptasi dengan Ilngkungan sekitar.
c.      Memberikan pengetahuan yang berhubungan dengan nilai dan norma dalam masyarakat
d.     Mencegah terjadinya perilaku menyimpang.
e.      Tercapainya Integrasi masyarakat.

   3.    Fungsi Sosialisasi
Proses sosialisasi di lingkungan masyarakat memiliki dua fungsi utama sebagai berikut :
a.     Membentuk pola perilaku individu berdasarkan kaidah nilai dan norma yang berlaku dalam masyarakat.
b.     Menjaga keteraturan dalam masyarakat.
c.      Menjaga integrasi masyarakat 

   4.    Indikasi Keberhasilan Proses Sosialisasi
a.     Terintegrasi secara kuat dengan masyarakat setempat dalam setiap aktivitas yang ditandai dengan keakraban dan persaudaraan di antara individu tersebut dengan warga masyarakat yang lain
b.     Memiliki banyak teman atau retail usaha yang akan mengakibatkan ketenteraman dalam pergaulan dan keberhasilan dalam karier dan usaha.
c.      Meningkatnya status yang sering kali diikuti dengan meningkatnya kepercayaan dan meningkatnya peranan sosial di lingkungan sosial yang baru.
d.     Dapat menyesuaikan diri dengan Iingkungan sosial maupun Iingkungan fisiknya.
e.      Faktor.Faktor yang Mempengaruhi Proses Sosialisasi 

  5.   Faktor-faktor yang memengaruhi proses sosialisasi dapat dibedakan menjadi dua. yaitu:
a.     Faktor internal, yaitu factor-faktor yang berasal dan dalam diri seseorang. Faktor intrinsik ini menyangkut motivasi, minat serta kemampuan yang dimlilki seseorang dalam rangka menyesuaikan diri dengan tata pergaulan yang ada dalam masyarakat.
b.     Faktor eksternal, faktor yang berasal dari luar Individu yang melakukan proses sosialisasi dalam masyarakat. Faktor ekstrinsik dapat berupa norma, nilai, struktur sosial, ekonomi, struktur budaya dan lain-Iain.

   6.   Tahapan Sosialisasi Seseorang 


a.     Tahap persiapan (Prepatory stage)
Tahap pertama ini merupakan tahapan persiapan untuk pertama kali mengenai lingkungan sosialnya, yaitu dimulai dengan orang-orang terdekat dengan dirinya seperti ibu, ayah, dan keluarga. Misalnya bayi mengenal bahasa yang disesuaikan dengan maknanya yang akan digunakan sesuai yang diajarkan oleh ibunya. Pada tahap ini manusia hanya bisa belajar meniru saja.
b.     Tahap meniru (Play stage)
Tahap ini merupakan langkah  kedua dari tahap pertama yaitu pada tahap ini anak mulai dari meniru dengan lebih baik lagi atau sempurna. Anak sudah memahami peranan dirinya serta apa yang diharakan dari dirinya dan peranan yang dimiliki orang lain. Contohnya anak peremuan sering meniru pola tingkah laku ibunya seperti memasak, belanja, atau berdandan.
c.      Tahap siap bertindak  (Game stage)
Pada tahap ini anak mulai memahami perannya dalam keluarga dan masyarakat. Anak mulai menyadaari aturan yang berlaku. Contohnya seorang aak di sekolah berusaha mentaati tata tertib di sekolah.
d.     Tahap penerimaan norma kolektif (Generalizing stage)
Pada tahap ini anak sudah mencapai proses pendewesaan dan mengetahui dengan jelas mengenai kehidupan bermasyarakat. Anak mampu  memahami peran yang seharusnya dilakukan dalam masyarakat. Tahapan ini manusia sudah dianggap sebagai manusia dewasa yang mantap Contohnya pada tahapan ini seseoang sadar akan hak kewajibannya sebagai warga Negara dan bangsa Indonesia.

   7.     Media Sosialisasi   
Media sosialisasi dalam pembentukan kepribadian meliputi.
a.     Media sosialisasi keluarga
Keluarga meruakan media sosialisasi yang pertama dan utama atau yang sering dikenal dengan istilah media sosialisasi primer. Arti pentingnya keluarga sebagai media sosialisasi primer bagi anak terletak pada pentingnya kemampuan yang diajarkan pada tahap ini. Hubungan individu di masyarakat sangat dipengaruhi keluarga karena alas an-alasan berikut.
   1.     Keluarga merupakan lingkungan pendidikan yang utama dan utama dibandingkan dengan lembaga pendidikan manapun.
   2.     Keluarga merupakan kelompok pergaulan hidup manusia dengan volume terkecil dan kader tertinggi.
    3.     Keluarga merupakan mata rantai untuk hubungan jasmani dan rohani manusia yang berlawanan jenis.
    4.     Keluarga meurpakan mata ranti dalam regenerasi dan pewarisan budaya.

Kebijakan orang tua yang menunjang proses sosialisasi anak-anaknya adalah sebagai berikut.
    1.   Mengusakan agar anak-anaknya selalu berdekatan dengan orang tuanya.
   2. Memberikan pengawasan dan pengendalian yang wajar sehingga jiwa anak tidak merasa tertekan.
    3.   Mendoroang anak agar dapat membedakan yang benar dan yang salah, yang baik dan buruk serta pantas dan yang tidak pantas.
     4.   Memperlakukan anak dengan baik, untuk itu, orang tua harus dapat berperan dengan baik.
    5.  Menasihati anak-anak jika melakukan kesalahan atau kekeliruan, menunjukkan dan mengarahkannya ke jalan yang benar, serta tidak mudah menjatuhkan hukuman kepada anak.

Dalam keluarga ada beberapa faktor yang bersifat universal dan memengaruhi pembentukan  kepribadian anak, yaitu sebagai berikut.
1.     Sifat otoriter orang tua
Sifat otoriter yang berlebihan dapat menimbulkan konflik dalam diri anak terutama di dalam masyarakat modern yang makin kompleks. Dalam masyarakat tradisional sifat otoriter orang tua lebih besar dan lebih lama, sehingga sifat tersebut menjadi tradisi yang diwariskan. Akan tetapi pada masyarakat modern anak umumnya mengalami emansipasi yang akan meniru kembali segala nilai yang ditanamkan kepadanya.
2.     Larangan Incest
Incest adalah perkawinan yang terjadi dikalangan keluarga sendiri atau perkawinan sedarah, Larangan Incest mendorong seseorang mencari pasangan di luar kalangan keluarga.
3.     Persaingan untuk mendapatkan kasih saying.
Persaingan didalam hidup keluarga menjadi pendorong bagi seseorang anak untuk mencari hubungan social di luar kalangan keluarga. Orang tua harus mendorong perkembangan pribadi anak, yaitu memperlakukan anak dengan penuh kasih saying.
b.     Media Sosialisasi teman sepermainan.
Dalam kelompok sepermainan, anak mulai mempelajari nilai-nilai keadilan.
Proses sosialisasi dalam kelompok bermain atau teman sepermainan sebagai berikut:
1)    Dilakukan antarteman, baik teman sebaya maupun tidak sebaya.
2)    Terjadi secara ekualitas (hubungan sosialisasi yang sederajat)
3)    Kelompok bermain ikut menentukan cara berperilaku anggota kelompoknya.
4)  Menjadi bagian dari subkultural yang dapat memberikan pengaruh positif dan negative

Didalam masyarakat, kelompok teman sebaya dapat berbentuk chums, cliques, crowds, dan kelompok terorganisasi.
1)    Chums adalah kelompok yang terdiri atas dua atau tiga orang sahabat karib. Pada umumnya, anggota kelompok ini mempunyai kesamaan dalam hal jenis kelamin, bakat, minat dan kemampuan.
2)    Cliques adalah kelompok yang terdiri atas emapat sampai lima orang sahabat karib, dan mempunyai kesamaan dalam hal jenis kelamin, minat, kemauan, dan kemampuan yang sama.
3)    Crowds adalah kelompok teman sebaya yang terdiri atas banyak remaja yang memiliki minat sama. Karena jumlah anggotanya banyak, sering terjadi ketegangan emosional di antara mereka.
4)    Kelompok terorganisir adalah kelompok yang sengaja dibentuk dan direncanakan oleh orang dewasa. Pada umumnya, kelompok pecinta alam, kelompok belajar, regu kerja, pramuka dan lain-lain.
c.      Media Sosialisasi Sekolah

Adapun fungsi pendidikan sekolah sebagai salah media sosialisasi, antara lain sebagai berikut:
1)    Mengembangkan potensi anak untuk mengenal kemampuan dan bakatnya.
2)   Melestarikan kebudayaan dengan cara mewariskannya dari satu generasi ke generasi berikutnya.
3)    Merangsangg partisipasi demokrasi melalui pengajaran keterampilan berbicara dan mengembangkan kemampuan berpikir secara rasional dan bebas.
4)    Memperkaya kehidupan dengan menciptakan cakrawal intelektual dan cita rasa keindahan kepada para siswa serta meningkatkan kemampuan menyesuaikan diri melalui bimbingan dan penyuluhan.
5)    Meningkatkan taraf kesehtan melalui pendidikan olahraga dan kesehatan.
6)    Menciptakan warga Negara yang mencintai tanah air, serta menunjang integritas antarsuku dan antar budaya.
7)    Mengadakan hiburan umum (pertandingan olahraga atau pertunjukan kesenian)

Untuk mencapai tujuan tersebut, sekolah memiliki dua jenis kurikulum yaitu sebagai berikut:
1.     Kurikulum Nyata (Real Curriculum), membuat sejumlah mata pelajran yang disampaikan di sekolah.
2.     Kurikulum tersembunyi (Hidden Curriculum), berupa aturan-aturan sopan santun, cara berpakaian yang rapi, penghargaan terhadap waktu (kedisiplinan) dan berpikir serta bersikap sistematis.
d.     Media Sosialisasi Lingkungan Kerja
Dilingkungan kerja sesorang akan berinteraksi dengan teman sekerja, dengan pimpinan, dan dengan relasi bisnis. Proses sosialisasi yang terjadi di lingan kerja sebagai berikut.
1)    Diutamakan untuk mencapai kesuksesan dan keunggulan hasil kerja.
2)    Sosialisasi tahap lanjut setelah memasuki masa dewasa.
3)    Adaptasi dalam proses sosialisasi lingkungan kerja dilakukan berdasarkan tuntutan sistem.
4)    Intensitas sosialisasi tertinggi dilakukan antarkolega.

e.      Media Massa sebagai media sosialisasi
Media massa merupakan salah satu unsur teknologi  yang memiliki peranan sebagai media sosialisasi. Alat komunikasi ini memiliki fungsi untuk menyampaikan pesan tanpa terikat oleh nilai dan norma yang ada di masyarakat. Identifikasi proses sosialisasi media massa sebagai berikut.
1)    Dilakukan untuk menghadapi masyarakat luas.
2)    Pesan sosialisasi lebih bersifat umum
3)    Diperlakukan peran serta masyarakat untuk bersikap selektif terhadap informasi yang akan diserap oleh anak.
4)    Sosialisasi selalu meliputi segala untuk perkembangan dan perubahan social yang bersifat universal.
5)    Berperan penting untuk menyampaikan nilai dan norma untuk menghadapi masyarakat yang heterogen.

8. Jenis atau Bentuk Sosialisasi, ada 8 yaitu,
a. Sosialisasi Primer : Tahapan sosialisasi pertama yang diterima oleh individu dalam lingkungan keluarga.
b. Sosialisasi Sekunder : Proses sosialisasi lanjutan setelah sosialisasi primer yang memperkenalkan individu ke dalam kelompok tertentu dalam masyarakat.
c. Sosialisasi Represif : Sosialisasi yang lebih menekankan penggunaan hukuman, terutama hukuman fisik teradap kesalahan yang dilakukan anak.
d. Sosialisasi Partisipasif : Sosialisasi yang memberikan apa yang diminta anak apabila berperilaku baik.
e. Sosialisasi seara Formal : Sosialisasi yang dilakukan melalui lembaga-lembaga formal.
f. Sosialisasi secara nonformal : Sosialisasi yangmellaui lembaga nonformal seperti masyarakat.
g. Sosialisasi Langsung : Tahap sosialisasi yang dilakukan secara face to face tanpa perantara komunikasi.
h. Sosialisasi tidak langsung : Sosialisasi yang menggunakan perantara/media komunikasi.

9. Cara-Cara Sosialisasi :
Proses sosialisasi individu di masyarakat dapat ditempuh dengan berbagai cara, yaitu :
     a.     Pelaziman (Conditioning)
Anak mempertahankan suatu perilaku apabila dengan perilaku itu anak mendapatkan imbalan. Sebaliknya perilaku anak akan berhenti apabila perilaku itu mendapat hukuman.
     b.     Imitasi
Terjadi proses imitasi ini terjadi proses yang agak majemuk, anak akan melihat model yang akan ditiru perbuatannya.
     c.      Identifikasi
Dalam perkembangan proses diri, identifikasi memegang peranan penting sebab melakukan identifikasi seseorang “mengkategorikan” dirinya dalam kategori tertentu.
     d.     Internalisasi
Anak mengikuti aturan karena mereka merasa pasti bahwa norma itu telah menadi bagian dari dirinya. Ia menyadari bahwa perilaku tersebut diharapkan oleh masyarakat.

        B. Peranan Nilai dan Norma Sosial dalam Proses Sosialisasi

          Pengetahuan tentang nilai dan norma sosial sangat penting dalam proses sosialisasi agar manusia mampu melakukan penyesuaian terhadap nilai dan norma sosial yang sudah ada di dalam masyarakat.
     1.     Nilai
Nilai merupakan suatu gambaran mengenai apa yang diinginkan, pantas, dan berharga yang mempengaruhi perilaku sosial dari orang yang memiliki nilai tersebut. Nilai sosial pada tiap kelompok masyarakat dapat saja berebda. Namun yang jelas, nilai sosial menadi salah satu tolok ukur kepribadian seseorang di masyarakat.
     2.     Norma
Norma adalah aturan-aturan tingkah laku yang disetujui oleh masyarakat untuk menentukan batas-batas tingkah laku yang dapat diterima oleh masyarakat itu. Norma memiliki peranan yang sangat penting dalam mengatur kehidupan bermasyarakat. Jika norma ditegakkan, maka ketertiban dan keselarasan dalam hubungan bermasyarakat akan terjalin. Sebagai contohnya yakni tata tertib yang berlaku di sekolah. Berdasarkan kekuatannya, norma dibedakan menjadi empat macam, yaitu norma cara (usage), kebiasaan (folksway),tata kelakuan (mores),dan adat istiadat (custom).


  C. C. Pembentukan Kepribadian
    
     1.     Definisi Kepribadian
Kepibadian mencakup kebiasaan, sikap, dan sifat yang dimiliki seseorang apabila berhubungan dengan orang lain.
Beberapa definisi kepribadian menurut para ahli, yaitu :
a.     M.A.W. Brower : Kepribadian adalah corak tingkah laku sosial yang meliputi corak kekuatan, dorongan, keinginan, opini, dan sikap-sikap seseorang.
b.     Theodore R. Newcombe
Kepribadian adalah organisasi sikap-sikap (predisposition) yang dimiliki seseorang sebagai latar belakang
c.      Yinger
Kepribadian adalah keseluruhan perilaku dari seorang individu dengan system kecenderungan tertentu yang berinteraksi dengan serangkaian situasi.
d.     Koentjaraningrat
Kepribadian adalah suatu susunan dari unsur-unsur akal dan jiwa yang menentukan tingkah laku atau tindakan seseorang.
e.      Roucek dan Warren
Kepribadian adalah organisasi factor-faktor biologis, psikologis, dan sosiologis yang mendasari perilaku seseorang.
Dari pengertian yang diungkapkan oleh para ahli di atas, dapat disimpulkan secara sederhana bahwa yang dimaksud kepribadian (personality) merupakan ciri-ciri dan sifat-sifat khas yang mewakili sikap atau taiat seseorang, mencakup pola-pola pemikiran dan perasaan, konsep diri, perangai, dan mentalitas yang umumnya sejalan dengan kebiasaan umum.

     2.     Unsur-Unsur dalam Kepribadian
Kepribadian seseorang bersifat unik dan tidak ada duanya. Unsur-unsur yang memengaruhi kepribadian seseorang adalah sebagai berikut :
Ø Pengetahuan
Pengetauan individu terisi dengan fantasi, pemahaman, dan konsep yang lahir dari pengamatan dan pengalaman mengenai bermacam-macam hal yang berbeda dalam lingkungan individu tersebut. Semua itu direkam dalam otak dan sedikit demi sedikit diungapkan oleh individu tersebut dalam bentuk perilaku.
Ø Perasaan
Perasaan adalah suatu keadaan dalam kesadaran manusia yang mnghasilkan penilaian positif atau negtif terhadap sesuatu. Bentuk penilaian tersebut dipengaruhi oleh pengetahuannya.
Ø Dorongan Naluri
Dorongan naluri adalah kemauan yang sudah merupakan naluri pada setiap manusia.
     3.     Faktor-Faktor Pembentukan Kepribadian
Beberapa factor pembentuk kepribadian sebagai berikut :
a.     Factor biologis (diperoleh dari gen keturunan orang tua)
b.     Factor kelompok (terbentuk dari pengaruh kelompok dan lingkungan spesi)
c.      Factor prenatal (berkaitan dengan pemberian rangsangan atau stimulus ketika anak maish dalam kandungan)
d.     Factor geografis (dipengaruhi oleh lingkungan alam)
e.      Factor kebudayaan (dipengaruhi oleh lingkungan budaya)
f.       Faktor pengalaman (berhubungan dengan pengalaman hidup)

4.     Teori Perkembangan Kepribadian
 
a)  Teori Tabula Rasa
Teori ini mengandaikan bahwa semua individu pada waktu lahir mempunyai potensi kepribadian yang sama. Setelah itu, kepribadiannya merupakan hasil pengalaman-pengalaman setelah lahir. Perbedaan pengalaman yang dialami itulah yang membedakan kepribadian antara individu yang satu dengan lainnya.

b) Teori Cermin Diri
Teori Cermin Diri (The Looking Glass Self) ini dikemukakan oleh Charles H. Cooley. Teori ini menggambarkan bahwa seseorang hanya bisa berkembang dengan bantuan orang lain. Setiap orang menggambarkan diri mereka sendiri dengan cara bagaimana orang lain memandang mereka. Teori ini didasarkan pada analogi dengan cara bercermin dan mengumpamakan gambar yang tampak pada cermin tersebut sebagai gambaran diri kita yang terlihat orang lain.
Ada tiga langkah dalam proses pembentukan cermin diri.
1)    Imajinasi tentang pandangan orang lain terhadap diri seseorang, seperti bagaimana pakaian atau tingkah lakunya di mata orang lain.
2)    Imajinasi terhadap penilaian orang lain tentang apa yang terdapat pada diri masing-masing orang. Misalnya, pakaian yang dipakai.
3)    Perasaan seseorang tentang penilaian itu seperti bangga, kecewa, gembira, atau rendah diri.
c)  Teori Diri Antisosial
Teori ini dikemukakan oleh Sigmund Freud. Gagasan pokoknya adalah bahwa masyarakat atau lingkungan sosial selamanya akan mengalami konflik dan selamanya menghalangi seseorang untuk mencapai kesenangannya. Masyarakat selalu menghambat pengungkapan agresi, nafsu seksual, dan dorongan-dorongan lainnya atau dengan kata ain, id selalu berperang dengan superego. Id biasanya ditekan tetapi sewaktu-waktu ia akan lepas menantang superego, sehingga menyebabkan beban rasa bersalah yang sulit dipikul oleh diri. Kecemasan yang mencekam diri seseorang itu dapat diukur dengan bertitik tolak pada jauhnya superego berkuasa terhadap id dan ego. Dengan cara demikian, Freud menekankan aspek-aspek tekanan jiwa dan frustasi sebagai akibat hidup berkelompok.
d) Teori Ralph dan Conton
Teori ini mengatakan bahwa setiap kebudayaan menekankan serangkaian pengaruh umum terhadap individu yang tumbuh di bawah kebudayaan itu. Pengaruh-pengaruh ini berbeda antara kebudayaan yang satu dengan kebudayaan yang lain, tetapi semuanya merupakan bagian dari pengalaman bagi setiap orang yang termasuk dalam masyarakat tertentu. Setiap masyarakat akan memberikan pengalaman tertentu

d)    Teori Ralph dan Conton
Teori ini mengatakan bahwa setiap kebudayaan menekankan serangkaian pengaruh umum terhadap individu yang tumbuh di bawah kebudayaan itu. Pengaruh-pengaruh ini berbeda antara kebudayaan yang satu dengan kebudayaan yang lain, tetapi semuanya merupakan bagian dari pengalaman bagi setiap orang yang termasuk dalam masyarakat tertentu. Setiap masyarakat akan memberikan pengalaman tertentu yang tidak diberikan oleh masyarakat lain kepada anggotanya. Dari pengalaman social itu timbul pembentukan kepribadian yang khas dari masyarakat tersebut. Selanjutnya dari pembentukan kepribadian yang khas ini kita mengenal ciri umum masyarakat tertentu sebagai wujud kepribadian masyarakat tersebut.

e)     Teori Subkultural Soerjono Soekanto
Teori ini mencoba melihat kaitan antara kebudayaan dan kepribadian dalam ruang lingkup yang lebih sempit, yaitu kebudayaan khusus (subkultual). Dia menyebutkan ada beberapa tipe kebudayaan khusus yang memengaruhi kepribadian, yaitu sebagai berikut.
1.     Kebudayaan khusus atas dasar factor kedaerahan
Di sini dijumpai kepribadian yang berbeda dari individu-individu yang merupakan anggota suatu masyarakat tertentu. Oleh karena masing-masing tinggal di daerah-daerah yang berlainan dengan kebudayaan khusus yang berbeda pula.
2.     Cara hidup di kota dan di desa yang berbeda
Ciri khas yang dapat dilihat pada anggota masyarakat yang hidup di kota besar adalah sikap individualistik. Sedangkan orang desa lebih menampakkan diri sebagai masyarakat yang mempunyai sikap gotong royong yang sangat tinggi.
3.     Kebudayaan khusus kelas social
Dalam kenyataan di masyarakat, setiap kelas social mengembangkan kebudayaan yang salng berbeda. Pada akhirnya menghasilkan kepribadian yang berbeda pula pada masing-masing anggotanya. Misalnya kebiasaan orang-orang yang berasal dari kelas atas dalam mengisi waktu liburannya ke luar negeri. Kebiasaan tersebut akan menghasilkan kepribadian yang berbeda dengan kelas social lainnya di masyarakat.
4.     Kebudayaan khusus atas dasar agama
Agama juga mempunyai pengaruh yang besar untuk membentuk kepribadian individu. Adanya mazhab-mazhab tertentu dalam suatu agama dapat melahirkan kepribadian yang berbeda-beda dikalangan anggota-anggota mazhab yang berlainan itu.
5.     Kebudayaan khusus atas dasar pekerjaan atau keahlian
Pekerjaan atau keahlian yang dimiliki seseorang juga mempunyai pengaruh terhadap kepribadiannya. Contohnya kepribadian seorang guru pasti berbeda dengan militer. Profesi-profesi tersebut pasti mempunyai cara yang berbeda dalam mendidik anak dan cara bergaul.

     5.     Tahap-Tahap Perkembangan Kepribadian
A. Fase Pertama
Fase ini terjadi dalam lingkungan keluarga yaitu ketika seorang anak mulai dapat berinteraksi dengan orang-orang yang ada di dekatnya, terutama adalah ayah, ibu, dan kakak. Menurut Charles H. Cooley (1864-1928), kepribadian terbentuk melalui tiga fase penting. Bahwa proses perkembangan seseorang dimulai kurang lebih usia 1-2 tahun yang ditandai dengan saat-saat seorang anak mengenal dirinya sendiri. Dalam proses kesadaran tentang diri sendiri ini, anak kecil dibantu oleh orang-orang dewasa di lingkungan keluarganya yang mengjarkan kepadanya bahwa ia mempunyai suatu nama tersendiri dan ia adalah putra bapak dan ibu. Kepribadian seorang anak terdiri dari 2 bagian penting yaitu bagian dasar yang cenderung tetap yang merupakan perwujudan dari nilai sentral yang dimilki seorang anak individu. Di samping itu, terdapat bagian lain yang cenderung berubah-ubah tergantung dari situasi dan kondisi yang dihadapinya. Kedua bagian ini merupakan keseluruhan dari kepribadian seorang anak.
Adapun masingmasing bagian tersebut adalah sebagai berikut.
1)    Bagian yang pertama yang berisi unsur-unsur dasar atas berbagai sikap yang disebut attitudes yang kurang lebih bersifat permanen dan tidak mudah berubah dikemudian hari.
2)    Bagian yang kedua adalah unsur-unsur yang terdiri atas keyakinan-keyakinan atau anggapan-anggapan yang lebih fleksibel yang sifatnya mudah berubah atau dapat ditinjau kembalu di kemudian hari. Anggapan-anggapan ini diperoleh berdasarkan pengalaman melalui pergaulan dengan orang lain.
Unsur yang pertama juga disebut struktur dasar kepribadian (basic personality structure), sedangkan unsur yang kedua disebut capital personality.

B.   Fase Kedua
Fase ini diawali dari usia 2-3 tahun. Fase ini merupakan fase perkembangan di mana rasa yang telah dimiliki seorang anak mulai berkembang karakternya sesuai dengan tipe pergaulan yang ada di lingkungannya, termasuk struktur tata nilai maupun struktur budayanya. Fase ini berlangsung relatif panjang hinga anak menjelang masa kedewasaannya sampai kepribadian tersebut mulai tampak dengan tipe-tipe perilaku yang khas yang tampak dalam hal-hal berikut ini.
1)    Dorongan-dorongan (Drives)
Unsur ini merupakan pusar dari kehendak manusia untuk suatu aktivitas yang selanjutnya akan membentuk motif-motif tertentu untuk mewujudkan suatu keinginan. Drives ini  dibedakan atas kehendak dan nafsu-nafsu. Kehendak merupakan dorongan-dorongan yang bersifat kultural, artinya sesuai dengan tingkat perdaban dan tingkat perekonomian seseorang. Sedangkan nafsu-nafsu merupakan kehendak yang terdorong oleh kebutuhan biologis, misalnya nafsu makan, amarah, dan lainnya.
2)    Naluri (Instinct)
Naluri merupakan suatu dorongan bersifat kodrati yang melekat dengan hakikat makhluk hidup. Misalnya seorang ibu mempunyai naluir yang kuat untuk mempunyai anak, mengasuh, dan membesarkan hingga dewasa. Naluri ini dapat dilakuka pada setiap makhluk hidup tanpa harus belajar lebih dahulu seolah-olah telah menyatu dengan hakikat makhluk hidup.
3)    Getaran Hati (Emosi)
Emosi atau getaran hati merupakan sesuatu yang abstrak dan menjadi sumber perasaan manusia. Emosi dapat menjadi pengukur segala sesuatu yang ada pada jiwa manusia, seperti senang, sedih, indah, serasi , dan lainnya.
4)    Perangai
Perangai merupakan perwujudan dari perpaduan antara hati dan pikiran manusia yang tampak dari raut muka maupun gerak-gerik seseorang. Perangai ini merupakan salah satu unsur dari kepribadian yang mulai riil, dapat dilihat, dan diidentifikasi oleh orang lain.
5)    Inteligensi (Inteligence Quetient-IQ)
Inteligensi adalah tingkat kemampuan berpikir yang dimiliki seseorang. Sesuatu yang terasuk dalam intelegensi adalah IQ, memori-memori pengetahuan, serta pengalaman-pengalaman yang telah diperoleh seseorang selama melakukan sosialisasi.
6)    Bakat (Talent)
Bakat pada hakikatnya merupakan sesuatu yang abstrak yang diperoleh seseorang karena warisan biologis yang diturunkan oleh leluhurnya, seperti bakat seni, olahraga, berdagang, berpolitik, dan lainnya. Bakat merupakan sesuatu yang sangat mendasar dalam mengembangkan keterampilan-keterampilan yang ada pada seseorang. Setiap orang memilki bakat yang berbeda-beda, walaupun berasal dari ayah dan ibu yang sama.
c. Fase Ketiga
Fase ketiga akan dialami oleh individu pada akhir kedewasaan, yaitu antara umur 25 sampai 28 tahun. Suatu kepribadian akan cenderung tetap dengan perilaku – perilaku yang khas yang menjadi anda kepribadian seseorang.
Misalnya ramah, bijaksana, teliti, sabar, riang, penuh tanggung jawab dan seterusnya. Pada proses perkembangan, kepribadian fase ketiga merupakan fase akhir yang ditandai dengan makin stabilnya perilaku – perilakuyang khas atau sifat – sifat khas dari seorang individu. Pada tingkat perkembangan ini, seseorang pada akhirnya mengalami suatu perkembangan yang relative tetap, yaitu dengan terbentuknya perilaku – perilaku yang khas sebagai perwujudan kepribadian yang bersifat abstrak. Pada dasarnya kepribadian terdiri dari 2 bagian. Bagian pertama (  basic personality structure ) cenderung tetap, sedangkan bagian yang kedua (  capital personality )  dapat mengalami perubahan atau penyesuaian.
Setelah kerpribadian terbentuk secara permanen maka dapat diklasifikasiakn tiga tipe kepribadian sebagai berikut
   1)    Kepribadian otoriter ( otoriter man )
Kepribadian ini terjadi apabila lingkungan sosialindovidu ketika maih kecil hingga ewasa menempatkan irinya pada psisiatas, yaitu posisi yang selalu memimpin orang lain yang ada disekitarnya. Kepribadian otoriter dapat terbentuk dari suasana keluarga yang sangat mendukung, misalnya bagi anak tunggal, anak sulung atau anak laki – laki sendiri.
Kondisi serupa bisa terbentuk di lingkungan permainan dimana seorang individu merupakan peserta yang terbesar dan mempunyai dominasi yang kuat terhadap kelompoknya. Salah satu cirri dari kepribadian otoriter adalah menonjolnya kehendak pribadi, kurang menampung banyak aspirasi dan seringkali memandang rendah keberadaan orang lain.
   2)    Kepribadian normative( Normatif Man )
Kepribadian ini terbentuk apabila seorang anak sejak kecil telah memperoleh pendidikan agama dan budi pekerti yang sangat kuat, sehingga kepribadian ini sangat berpedoman pada norma – norma.  Sangat sensitive bila di lingkungan sosialnya terjadi penyimpangan perilaku. Kepribadian normative adalah kepribadian yang ideal dimana seseorang mempunyai prinsip – prinsip yang kuat untuk menerapkan nilai nilai sentral yang ada dalam dirinyayang merupakan hasil proses sosialisasi pada masa sebelumnya. Ditandai dengan kemampuan menyesuaikan diri yang sangat tinggai dan dapat menampung banyak aspirasi dari orang lain.
   3)    Kepribadian perbatasan ( Marginal Man )
Kerpribadian tipe ini seolah – olah tidak mempunyai bentuk yang pasti. Hal ini terjadi karena proses pembentukan seorang individu sering kali mengalami perpindahan tempat tinggal karena alasan tertentu sehingga nilai nilai yang terbentuk mengalami perubahan – perubahan akibat menyesuaikan dengan perubahan tempat tinggal yang berpindah serta mempunyai struktur budaya yang berlainan. Seseorang dikatakan memiliki kepribadian perbatasan apabila orang ini memiliki dualisme budaya karena proses perkawinan atau karena situasi tertentu hingga mereka harus mengabdi pada 2 struktur budaya masyarakat yang saling tidak sama.
D. Pengaruh Sosialisasi Nilai ( Budaya ) terhadap Pembentukan Kepribadian
Sosialisasi berperan dalam proses pembentukan kepribadian. Jika proses sosialisasi berlangsung dengan baik maka akan baik pula kepribadian seseorang. Begitu pula sebaliknya. Jika sosialisasi berlangsung kurang baik maka kurang baik pula kepribadian seseorang. Kepribadian seseorang dipengaruhi pula oleh kebudayaan yang berlaku dilingkungan sekitar. Kebudayaan merupakan pola – pola yang sering diulang – ulang yang akhirnya menjadi sebuah kebiasaan.
Kebiasaan – kebiasaan ini dugunakan untuk memberikan arah kepada individu ataupun keompok, bagaimana seharusnya ia berhubungan atau berinteraksi dengan orang lain, bahkan telah menjadi tuntutan masyarakat dimana pun dan dalam kurun waktu kapan pun. Danproses panjang inilah, kepribadian terbentuk seiring dan sesuai dengan kebudayaan setempat. Oleh karena itu, kebudayaan antar satu daerah dengan daerah lain berbeda, sehingga dapat dipastikan kepribadian dari dua kebudayaan tersebut berbeda pula.


Cr By : Annisa Mauliana Akbar, Besse Pangka, and Indah Pratiwi